Belajar Mengajar

BAB I

PENDAHULUAN

 

Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan anak didik. Harapan yang selalu dituntut guru adalah bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan dapat dikuasai anak didik secara tuntas. Ini merupakan masalah sulit yang dirasakan oleh guru. Kesulitan ini bukan hanya dikarenakan ahak didik merupakan makhluk individu dengan segala keunikan, tetapi mereka juga sebagai makhluk social dengan latar belakang yang berlainan.

Ada tiga aspek yang membedakan anak didik yang satu dengan yang lain, yaitu aspek intelektual, psikologi, dan biologis. Ketiga aspek tersebut diakui sebagai akar permasalahan yang melahirkan bervariasinya sikap dan tingkah laku anak didik disekolah.hal ini menjadi tugas yang cukup berat bagi guru dalam pengelolaan kelas. Akibat kegagalan guru dalam mengelola kelas, tujuan pengajaran akan sukar dicapai.

Dengan pengelolaan kelas yang baik, tujuan pembelajaran dapat dicapai tanpa menemukan kendala yang berarti. Tetapi pengelolaan kelas yang baik tidak selamanya dapat dipertahankan, ini disebabkan pada kondisi tertentu ada gangguan yang tidak dikehendaki dengan tiba-tiba. Suatu gangguan yang datang dengan tiba-tiba dan diluar kemampuan guru adalah kendala spontanitas dalam pengelolaan kelas akibatnya suasana akan terganggu dan konsentrasi anak didikpun akan pecah.

Masalah lain yang sering digunakan guru adalah masalah pendekatan, karena dapat mempengaruhi hasil kegiatan belajar mengajar. Karena dapat mempengaruhi hasil kegiatan belajar mengajar, maka guru tidak sembarangan memilih dan menggunakannya. Maka penting untuk mengenal suatu baha untuk kepentingan pemilihan pendekatan.

Media sumber belajar adalah alat bantu yang berguna dalam kegiatan belajar mengajar. Kesulitan anak didik memehami konsep dan prinsip-prinsip tertentu dapat diatasi dengan bantuan alat bantu. Bahkan alat bantu diakui dapat melahirkan umpan balik yang baik dari anak didik.

Pengembangan variasi pengajaran salah satunya adalah memanfaatkan variasi alat bantu, dalam hal ini variasi media pandang, variasi media dengar, maupun variasi media taktil. Tujuan yang hendak dicapai adalah meningkatkan dan memelihara perhatian anak didik terhadap relevensi KBM, memberikan kesempatan kemungkinan berfungsinya motivasi, membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah, dan mendorong anak didik untuk belajar.

Tujuan pembelajaran akan dapat tercapai dengan penggunaan metode yang tepat, sesuai dengan standart keberhasilan yang terpatri di dalam suatu tujuan. Dalam mengajar, sering ditemukan mengkombinasikan beberapa macam metode. Penggabunga metode ini dimaksudkan untuk menggairahkan belajar anak didik. Dengan bergairahnya belajar, maka anak didik tidak akan merasa sukar dalam mencapai tujuan pengajaran.

Dengan tercapainya tujuan pembelajaran, maka dapat dikatakan bahwa guru telah berhasil dalam mengajar. Keberhasilan kegiatan belajar mengajar dapat diketahui setelah diadakannya evaluasi. Jika hanya 75% atau lebih dari jumlah anak didik yang mengikuti proses belajar mengajar mencapai taraf keberhasilan kurang(di bawah taraf minimal), maka proses KBM berikutnya hendaknya bersifat perbaika(remedial).

Demikianlah beberapa permasalahan yang diuraikan secara umum untuk memberikan pemahaman awal terhadap pembaca.

BAB II

KONSEP STRATEGI BELAJAR MENGAJAR

 A.   Pengertian Strategi Belajar Mengajar

Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sarana yang telah ditentukan. Dikaitkan dengan belajar mengajar strategi diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan KBM untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

Ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar, yaitu :

  1. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan.
  2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandaga hidup masyarakat.
  3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efisien.
  4. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau criteria serta standart keberhasilan sebagai pedoman guru dalam melakukan evaluasi hasil KBM.

B.   Klasifikasi Strategi Belajar Mengajar

Menurut Tabrani Rusyan dkk, terdapat berbagai masalah sehubungan dengan strategi belajar mengajar, diantaranya

1.      Konsep Dasar Strategi Belajar Mengajar

Konsep Dasar Strategi Belajar Mengajar meliputi : a) Menetapkan spesifikasi dan dan kualifikasi perubahan tingkah laku, b) Menentukan pilihan berkenaan dengan pendekatan terhadap masalah belajar mengajar, c) Memilih prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar, d) Menerapkan norma dan kriteria keberhasilan kegiatan belajar mengajar.

2.      Sasaran Kegiatan Belajar

Setiap kegiatan mempuyai sasaran atau tujuan. Tujuan itu bertahap dan berjenjang mulai dari yang sangat operasional dan konkret, yakni tujuan Instruksional umum dan khusus, tujuan kurikuler, tujuan nasional, sampai pada tujuan yang bersifat universal. Pada tujuan universal, manusia yang diidamkan harus memiliki kualifikasi : a) pengembangan bakat secara optimal, b) hubungan antar manusia, c) efisiensi ekonomi, d) tanggug jawab selaku warga negara.

3.      Belajar Mengajar sebagai Suatu Sistem

Belajar mengajar sebagai suatu system intruksional mengacu pada pengertian sebagai seperangkat komponen yang salig bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan. Komponen tersebut adalahtujuan, baha, siswa, guru, metode, situasi, dan evaluasi. Semua komponen harus diorganisasikan agar dapat bekerja sama sehingga tujuan dapat tercapai.

Persoalan yang biasa dihadapi guru antara lain : a) Tujuan apa yang aka dicapai, b) Materi pelajaran apa yang diperlukan, c) Metode, alat mana yang harus dipakai, d) Prosedur apa yang akan ditempuh untuk melakukan evaluasi.

Dalam proses belajar mengajar guru berperan sebagai pengajar, pembimbing, perantara sekolah dengan masyarakat, administrator,dll. Oleh karena itu guru diharapka dapat memahami aspek pribadi anak didik yaitu bias dilakuka dengan evaluasi. Guru juga mempunyai keharusan melaporkan perkembangan hasil belajar siswa kepada kepala sekolah, orang tua, dan instansi yang terkait.

4.      Hakikat Proses Belajar

Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, ketrampilan, maupun sikap. Jadi, hakikat belajar adalah perubahan.

5.      Entering Behavior Siswa

Menurut Abin Syamsudin, entering behavior akan dapat diidentifikasi dengan cara tradisional dan secara inofatif guru.

Gambaran tentang entering behavior, ialah siswa banyak menolong guru, diantaranya:

  1. Untuk mengetahui seberapa jauh kesamaan individual siswa dalam taraf kesiapan, kematangan, tingkat penguasaan materi, dan ketrampilan dasar dalam penyajian.
  2. Diketahuinya disposisi perilaku siswa tersebut akan dapat dipertmbangkan dan dipilih bahan, prosedur, metode, teknik serta alat bantu belajar mengajar yang sesuai.
  3. Dengan membandingkan nilai proses dengan nilai hasil pasca-tes, guru akan mendapatkan petunjuk seberapajauh dan banyak perubahan perilaku itu telah menjadi dalam diri siswa.

Tiga dimensi dari entering behavior yang perlu diketahui guru :

a.      Batas ruang lingkup materi pengetahuan yang telah dimiliki dan dikuasai oleh siswa.

b.      Tingkatan tahapan materi pengetahuan, terutama kawasa pola-pola sambutan atau kemampuan yang dimiliki siswa.

c.       Kesiapan dan kematangan fungsi-fungsi psikomotorik.

6.      Pola-pola Belajar Siswa

Robert M. Gagne membedakan pola-pola belajar siswa menjadi delapan tipe, yaitu :

a.      Belajar Tipe 1 : Signal Learning (Belajar Isyarat)

Signal Learning dapat diartikan sebagai proses penguasaan pola-pola dasar perilaku bersifat involuntary (tidak sengaja dan tidak disadari tujuannya)

b.      Belajar Tipe 2 : Stimulus- Response Learning (Belajar Stimulus- Response)

Stimulus- Response Learning diartika bahwa kemampuan itu tidak diperoleh dengan tiba-tiba, akan tetapi melalui latihan-latihan.

c.       Belajar Tipe 3 : Chaining (Rantai atau Rangkaian)

Chaining terjadi bila terbentuk hubungan antara beberapa S-R, sebab yang satu terjadi segera setelah yang satu lagi. Jadi berdasarkan hubungan (contiguity).

d.      Belajar Tipe 4 : Verbal Association (Asosiasi Verbal)

Verbal Association yaitu belajar menghubungkan satuan ikatan S-R yang satu dengan yang lain. Hubungan itu terbentuk, bila unsur-unsurnya terdapat dalam urutan tertentu,yang satu segera mengikuti yang satu lagi (contiguity).

e.       Belajar Tipe 5 : Discrimination Learning (Belajar Diskriminasi)

Discrimination Learning atau belajar mengadakan pembeda. Dalam tipe ini anak didik mengadakan seleksi antara dua perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya, kemudian memilih pola-pola respons yang dianggap paling sesuai.

f.        Belajar Tipe 6 : Concept Learning (Belajar Konsep)

Concept Learning adalah belajar pengertian. Dengan berdasarkan persamaan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus dan objek-objeknya, ia membentuk pengertian atau konsep.

g.      Belajar Tipe 7 : Rule Learning (Belajar Aturan)

Rule Learning adalah membuat generalisasi, hokum, dan kaidah. Siswa belajar mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan mengoperasikan kaidah logika formal sehingga siswa dapat menemukan konklusi tertentu yang mungkin selanjutnya dapat dipandang sebagai “rule”.

h.      Belajar Tipe 8 : Problem Solving (Pemecahan Masalah)

Problem Solving adalah belajar memecahkan masalah. Disini siswa belajar merumuskan dan memecahkan masalah, memberika respons terhadap rangsangan yang menggambarkan atau membangkitkan situasi problematic.

7.      Memilih Sistem Belajar Mengajar

Berbagai sistem pengajaran yang menarik perhatian akhir-akhir ini adalah

a.      Enquiry-Discovery Learning

Enquiry-Discovery Learning adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Secara garis besar prosedurnya adalah : a) Simulation, b) Problem Statement, c) Data Collection, d) Data Processing, e) Verification, f) Generalization.

b.      Ekspository Learning

Dalam sistem ini guru menyajikan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematis, dan lengkap. Sehingga siswa tinggal menyimak dan mencerna secara teratur. Secara garis besar prosedurnya adalah a) Preparasi, b) Apersepsi, c) Presentasi, d) Resitasi.

c.       Mastery Learning

Dari hasil berbagai studi menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil anak didik yang mampu menguasai bahan, yakni 90% – 100% dari penyajian guru. Sebagian besar anak didik bervariasi antara 50%-80%, malah sebagian lagi ada yang lebih kecil lagi penguasaannya terhadap bahan yang disajikan guru. Adanya variasi penguasaan bahan ini mencerminkan adanya variasi kemampuan para anak didik.

d.      Humanistic Education

Karakteristik pokok metode ini antara lain bahwa guru hendaknya jangan membuat jarak terlalu tajam dengan siswanya. Ia harus menempatkan diri dengan siswa sebagai siswa senior yang selalu menjadi sumber atau konsultan yang berbicara.

e.       Pengorganisasian Kelompok Belajar

Sistem pengorganisasian kelompok belajar anak didik disarankan sebagai berikut :

  1. N 1. Pada situasi yang ekstrim, kelompok belajar itu mungkin hanya seorang lebih baik menggunakan konsep belajar study individual (independent study).
  2. N 2-20. Untuk kelompok kecil sekitar dua sampai dua puluh orang, metode belajarnya bias diskusi atau seminar.
  3. N lebih dari 40 orang. Jika anggota kelompok lebih dari 40 orang metode pengajarannya kuliah atau ceramah.

 C.   Implementasi Belajar Mengajar

Berbagai upaya diusahakan untuk menganalisis proses pengelolaan belajar mengajar ka dalam unsur-unsur komponennya. Komponen-komponen tersebut meliputi :

a.      Perencanaan

Merencanakan yaitu menpelajari masa mendatang dan menyusun rengana kerja. Tahap-tahap pengelolaan dan pelaksanaannya adalah :

  1. Menetapkan apa yang mau dilakukan, kapan dan bagaimana cara melakukannya.
  2. Membatasi sasaran dan menetapkan pelaksanaan kerja untuk mencapai hasil yang maksimal melalui proses penentuan target.
  3. Mengembangkan alternatif-alternatif.
  4. Mengumpulkan da menganalisis informasi.
  5. Mempersiapkan dan mengkomunikasikan rencana-rencana dan keputusan-keputusan.

b.      Pengorganisasian

Mengkoordinasikan yaitu membuat organisasi, usaha, manajer, tenaga kerja dan bahan. Tahap-tahap pengelolaan dan pelaksanaannya adalah :

  1. Menyediakan fasilitas, perlengkapan dan tenaga kerja yang diperlukan.
  2. Pengelompokan komponen kerja ke dalam struktur organisasi secara teratur.
  3. Membentuk struktur wewenang dan mekanisme koordinasi.
  4. merumuskan, menetapkan metode dan prosedur.
  5. Memilih, mengadakan latihan dan pendidikan tenaga kerja serta mencari sumber-sumber lain yang diperlukan.

c.       Pengkoordinasikan (Pengarahan)

Pengkoordinasikan yaitu menyatukan dan mengkorelasikan semua kegiatan. Tahap-tahap pengelolaan dan pelaksanaannya adalah :

  1. Menyusun kerangka waktu dan biaya secara terperinci.
  2. Memprakarsai dan menampilkan kepemimpinan dalam melaksanakan rencana dan pengambilan keputusan.
  3. Mengeluarkan instruksi-instruksi yang spesifik.
  4. Membimbing, memotifasi dan melakuka superfisi.

d.      Pengawasan

Mengawasi yaitu memeriksa agar segala sesuatu dikerjakan sesuai dengan peraturan yang digariskan dan intruksi-intruksi yang diberikan. Tahap-tahap pengelolaan dan pelaksanaannya adalah :

  1. Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan, dibandingkan denga rencana.
  2. Melaporkan penyimpangan untuk tindakan koreksi dan merumuskan tindakan koreksi, menyusun standar-standar dan saran-saran.
  3. Menilai pekerjaan dan melakukan tindakan koreksi terhadap penyimpangan-penyimpangan.

Tujuan pengajaran merupakan pangkal tolak keberhasilan dalam pengajaran. Oleh karena itu dalam perumusan tujuan instruksional khusus perlu dipertimbangkan :

  1. Kemampuan dan nilai-nilai apa yang ingin dikembangkan pada diri siswa.
  2. Bagaimana cara mencapai tujuan itu secara bertahap atau sekaligus.
  3. Apakah perlu menekankan aspek-aspek tertentu.
  4. Seberapa jauh tujuan itu dapat memenuhi kebutuhan perkembangan siswa.
  5. Apakah waktu yang tersedia cukup untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.

Dalam pengaturan ruang belajar perlu diperhatikan :

  1. Ukuran dan bentuk kelas.
  2. Bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa.
  3. Jumlah siswa dalam kelas.
  4. Jumlah siswa dalam tiap kelompok.
  5. Jumlah kelompok dalam kelas.
  6. Komposisi siswa dalam kelompok, yang pandai, kurang pandai, jenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Agar kegiatan belajar sesuai dengan kebutuhan cara belajar siswa, diperlukan pengelompokan siswa dalam belajar. Dalam penyusunan kelompok perlu pertimbangan antara lain :

  1. Kegiatan belajar apa yang akan dilaksanakan.
  2. Siapa yang menyusu anggota kelompok, guru, siswa, atau guru dan siswa bersama-sama.
  3. Atas dasar apa kelompok itu disusun.
  4. Apakah kelompok itu selalu tetap atau berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan cara belajar.

 

BAB III

HAKIKAT CIRI DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR

 

Kegiatan belajar mengajar adalah suatu kondisi yang dengan sengaja diciptakan. Barulah yang menciptakannya guna membelajarkan anak didik. Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar. Sebagai kegiatan yang bernilai edukatif, belajar mengajar mempunyai hakikat, cirri dan komponen. Ketiga aspek ini perlu betul guru pahami dan ketahui guna menunjang tugas di medan pengabdian.

A.   Hakikat Belajar Mengajar

Dalam KBM, anak sebagai subyek dan obyek. Kegiatan mengajar bagi seorang guru menghendaki kahadiran sejumlah anak didik. Berbeda dengan belajar, belajar tidak selamanya memerlukan kehadiran guru. Belajar merupakan proses perubahan. Sama halnya dengan belajar, mengajar merupakan proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga mendorong anak didik melakukan proses belajar. Peranan guru sebagai pembimbing bertolak dari cukup banyaknya anak didik yang bermasalah. Jadi pada hakikatnya belajar adalah “Perubahan”, maka hakikat belajar mengajar adalah proses “Pengaturan” yang dilakukan oleh guru.

B.   Ciri-Ciri Belajar Mengajar

1. Komponen Belajar Mengajar

a. Belajar mengajar memiliki tujuan

b. Ada jalan / prosedur yang direncanakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan

c. KBM ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus

d. Ditandai aktivitas anak didik

e. Dalam KBM, guru berperan sebagai pembimbing

f. Dalam KBM membutuhkan disiplin

g. Ada batas waktu

h. Evaluasi

2. Tujuan

Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Unsur terpenting suatu kegiatan yaitu tujuan. Dalam KBM, tujuan adalah cita-cita yang ingin dicapai dalam KBM tersebut. Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran adalah suatu cita-cita yang bernilai normative. Tujuan mempunyai jenjang dari yang luas dan umum sampai ke sempit/khusus. Tujuan dibawahnya menunjang tujuan diatasnya. Tujuan adalah kemampuan yang dapat mempengaruhi pengajaran. Suatu tujuan pengajaran mengatakan suatu hasil yang kita harapkan dari pengajaran itu dan bukan sekedar proses. Guru tidak bisa mengabaikan masalah perumusan tujuan bila ingin memprogramkan pengajaran.

3. Bahan Pengajaran

Bahan pengajaran adalah substansi yang ingin disampaikan dalam KBM. Tanpa bahan pelajaran, KBM tidak akan berjalan. Guru harus mempunyai penguasaan bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap. Bahan adalah salah satu sumber belajar bagi anak didik. Bahan disebut sebagai sumber belajar (pengajaran) adalah sesuatu yang membawa pesan untuk tujuan pengajaran. Bahan pelajaran merupakan komponen yang tidak bisa diabaikan dalam pengajaran, sebab bahan adalah inti dalam proses belajar mengajar yang akan disampaikan kepada anak didik.

4. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)

KBM adalah inti kegiatan dalam pendidikan. KBM melibatkan semua komponen pengajaran sehingga tujuan dapat dicapai. Dalam KBM, guru dan anak didik terlibat dalam sebuah interaksi dengan bahan pelajaran sebagai mediumnya. Guru sebagai motivator dan fasilitator, anak didik yang lebih aktif. Guru harus memperhatikan perbedaan individual anak didik yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Pemahaman ketiga aspek tersebut akan merapatkan hubungan guru dengan anak didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan mastery learning dalam mengajar. Mastery learning adalah salah satu strategi belajar mengajar pendekatan individu (Drs. Muhammad Ali, 1992:94). Mastery learning adalah kegiatan program pengayaan dan perbaikan (Dr. Suharsimi Arikunto, 1988:31). Dengan demikian KBM yang bagaimanapun juga ditentukan dari baik atau tidaknya program pengajaran yang telah dilakukan dan akan berpengaruh terhadap tujuan yang akan dicapai.

5. Metode

Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan. Dalam KBM, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai tujuan. Tanpa metode, guru tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Guru sebaiknya tidak hanya menggunakan satu metode, jadi harus bervariasi agar anak didik tidak bosan. Factor yang mempengaruhi metode mengajar:

  1. Tujuan yang berbagai jenis dan fungsinya
  2. Anak didik yang berbagai tingkat kematangan
  3. Situasi yang berbagai keadaan
  4. Fasilitas yang berbagai kualitas dan kuantitas
  5. Pribadi guru serta kemampuan professional yang berbeda-beda.

6. Alat

Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Alat ada 2 yaitu alat dan alat Bantu pengajaran. Selain itu ada alat material dan non material. Sebagai alat Bantu dalam pendidikan dan pengajaran alat material (audiovisual) mempunyai sifat:

  1. Kemampuan untuk meningkatkan persepsi
  2. Kemampuan untuk meningkatkan prestasi
  3. Kemampuan untuk meningkatkan transper (pengalihan belajar)
  4. Kemampuan untuk memberikan penguatan/pengetahuan yang ingin dicapai
  5. Kemampuan untuk meningkatkan retensi (ingatan)

7. Sumber Pelajaran

Sumber belajar adalah sesuatu yang dapat digunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang. Sumber belajar merupakan bahan/materi yang menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal baru bagi si pelajar.

-          Ny. Dr. Roestiyah, N. K (1989;53) sumber belajar:

a.   Manusia

b.Buku /perpustakaan

c. Mass media

  1. Lingkungan

e. Alat pelajaran

f. Museum

-          Drs. Sudirman N, dkk (1991;203), sumber belajar:

  1. Manusia
  2. Bahan
  3. Lingkungan
  4. Alat dan perlengkapan
  5. Aktivitas

1)      Pengajaran berprogram

2)      Simulasi

3)      Karya wisata

4)      System pengajaran modul

Aktivitas sebagai sumber belajar, meliputi:

1)      Tujuan khusus yang harus dicapai siswa

2)      Materi yang harus dipelajari

3)      Aktivitas yang dilakukan

-          Drs. Udin Saripudelin Winata Putra M.A dan Drs. Rustana Ardiwinata (1991;165) sumber belajar:

  1. Manusia
  2. Buku/perpustakaan
  3. Media massa
  4. Lingkungan

1)      Lingkungan terbuka

2)      Lingkungan sejarah

3)      Lingkungan manusia

  1. Media pendidikan

8. Evaluasi

Evaluasi berasal dari bahasa Inggris “Evaluation” penilaian dari sesuatu menurut L. Pasaribu dan Simanjuntak menegaskan:

a.      Tujuan umum evaluasi

1)      Mengumpulkan data yang membuktikkan taraf  kemajuan murid dalam mencapai tujuan yang diharapkan

2)      Memungkinkan pendidik menilai aktivitas/pengalaman yang didapat

3)      Menilai metode mengajar yang digunakan

b.      Tujuan khusus evaluasi

1)      Merangsang kegiatan siswa

2)      Menemukan sebab kemajuan dan kegagalan

3)      Memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan, perkembangan dan bakat siswa yang bersangkutan

4)      Memperoleh bahan laporan tentang perkembangan siswa yang diperlukan orang tua dan lembaga pendidikan

5)      Memperbaiki mutu pelajaran/cara belajar dan metode mengajar

Dari tujuan tersebut, evaluasi mempunyai manfaat yang sangat besar, bahwa pelaksanaan evaluasi diarahkan kepada evaluasi proses dan produk. Fungsi evaluasi:

  1. Memberi umpan balik (feed back) kepada guru sebagai dasar memperbaiki proses belajar mengajar, serta mengadakan perbaikan program murid baru.
  2. Memberikan angka yang tepat tentang kemajuan atau hasil belajar setiap murid
  3. Menentukan murid di dalam situasi belajar mengajar yang tepat
  4. Mengenal latar belakang murid yang mengalami kesulitan belajar.

 


BAB IV

BERBAGAI PENDEKATAN

DALAM BELAJAR MENGAJAR

 

Dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan sembarangan yang bisa merugikan anak didik. Karena keberhasilan belajar mengajar lebih banyak ditentukan oleh guru dalam mengelola kelas. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran. Guru sebaliknya memandang anak didik sebagai individu dengan segala perbedaa, sehingga mudah melakukan pendekatan dalam pengajaran. Di bawah ini ada beberapa pendekatan dengan harapan dapat membantu guru dalam memecahkan masalah dalam KBM.

A.   Pendekatan Individual

Setiap anak didik mempunyai karakteristik yang berbeda dari satu anak didik dengan anak didik lainnya. Perbedaan individual anak didik tersebut memberikan wawasan kepada guru bahwa SBM harus memperhatikan perbedaan anak didik, artinya diharapkan kepada anak didik dengan tingkat penguasaan optimal. Pendekatan individual mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual. Pemilihan metode tidak begitu saja mengabaikan kegunaan pendekatan individu, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya, selalu melakukan pendekatan individu. Persoalan kesulitan belajar anak lebih mudah dipecahkan dengan pendekatan individu, walaupun suatu saat pendekatan kelompok juga diperlukan.

Contoh kasus yang bisa diatasi dengan pendekatan individual yaitu misalnya ada anak yang suku bicara, maka anak tersebut harus dipisahkan pada/dengan kelompok anak yang pendiam.

 

B.   Pendekatan Kelompok

Pendekatan kelompok memang satu waktu diperlukan dan perlu digunakan. Hal ini disadari bahwa anak didik adalah jenis makhluk yang berkecenderungan untuk hidup bersama. Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuh-kembangkan rasa social yang tinggi pada diri  setiap anak didik. Mereka sadar bahwa hidup ini saling ketergantungan. Tidak ada makhluk hidup yang terus menerus berdiri sendiri tanpa keterlibatan makhluk hidup lain. Anak didik dibiasakan hidup bersama, bekerja sama dalam kelompok, akan menyadari bahwa dirinya ada kekurangan dan kelebihan, sehingga bisa saling melengkapi. Persaingan positif pun terjadi di kelas dalam rangka untuk mencapai prestasi belajar yang optimal. Yang diharapkan yaitu anak didik lebih aktif, kreatif, dan mandiri.

Ketika guru ingin menggunakan pendekatan kelompok, maka guru harus mempertimbangkan bahwa hal itu tidak bertentangan dengan tujuan, fasilitas belajar pendukung, metode intelektual, dan psikologis dijadikan sebagai pijakan dalam melakukan pendekatan kelompok. Keakraban kelompok ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu:

  1. Perasaan diterima/disukai teman-teman
  2. Tarikan kelompok
  3. Teknik pengelompokkan oleh guru
  4. Partisipasi /keterlibatan dalam kelompok
  5. Penerimaan tujuan kelompok dan persetujuan dalam cara mencapainya
  6. Struktur dan sifat-sifat kelompok:
    1. Suatu multi personalia dengan tingkat keakraban tertentu.
    2. Suatu system interaksi
    3. Suatu organisasi atau struktur
    4. Suatu motif tertentu dan tujuan bersama
    5. Suatu kekuatan atau standar perilaku tertentu
    6. Pola perilaku yang dapat diobservasi yang disebut kepribadian

Akhirnya guru dapat memanfaatkan pendekatan kelompok demi untuk kepentingan pengelolaan pengajaran pada umumnya dan kelas pada khususnya.

C.   Pendekatan Bervariasi

Ketika guru dihadapkan pada permasalahan anak didik, mau tidak mau guru akan berhadapan dengan permasalahan anak didik yang bervariasi. Maka pendekatan yang digunakan pun akan lebih tepat dengan pendekatan variasi. Pendekatan bervariasi bertolak dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap anak didik dalam belajar bermacam-macam. Kasus yang biasanya muncul dalam pengajaran dengan berbagai motif, sehingga perlu variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus. Maka kiranya pendekatan bervariasi ini sebagai alat yang dapat guru gunakan untuk kepentingan pengajaran.

D.   Pendekatan Edukatif

Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana bila menggunakan kekuasaan, karena hal itu bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak didik. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif. Setiap tindakan, sikap dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan, dengan tujuan untuk mendidik agar anak didik menghargai norma hokum, susila, moral, sosial, dan agama. Mungkin kewibawaan guru yang dirasakan mulai memudar sekarang ini banyak dimunculkan kembali dan tetap melekat pada pribadi guru. Sekarang saatnya mengedepankan pendidikan kepribadian kepada anak didik dan jangan hanya pendidikan intelektual serta ketrampilan semata, karena akan menyebabkan anak tumbuh sebagai seorang intelektual/ilmuwan yang berpribadi kering.

Semua pendekatan yang dilakukan guru harus bernilai edukatif, dengan tujuan mendidik. Berdasarkan kurikulum atau (GBPP) Pendidikan Agama Islam SLTP tahun 1994 disebutkan ada 5 pendekatan yaitu pengalaman, pembiasaan, emosional, rasional, fungsional. Kelima pendekatan ini diajukan, karena pendidikan agama Islam di sekolah umum dilaksanakan melalui kegiatan intra dan ekstra kurikuler yang satu sama lainnya saling menunjang dan melengkapi.

E.   Pendekatan Pengalaman

Pengalaman adalah guru yang baik, guru yang bisu yang tidak pernah marah. Pengalaman adalah guru yang tanpa jiwa, namun selalu dicari olah siapapun. Belajar dari pengalaman lebih baik daripada sekedar bicara, dan tidak pernah berbuat sama sekali. Pengalaman tidak semua mendidik, cirri pengalaman edukatif: berpusat pada suatu tujuan yang berarti bagi anak (meaningful), kontinu dengan kehidupan anak, interaksif dengan lingkungan dan menambah integrasi anak.

Betapa tinggi nilai suatu pengalaman, sehingga penting bagi perkembangan jiwa anak. Maka “Pendekatan Pengalaman” sebagai frase yang baku dan diakui pemakaiannya dalam pendidikan. Untuk pendidikan agama Islam, pendekatan pengalaman yaitu suatu pendekatan yang memberikan pengalaman keagamaan kepada siswa dalam rangka penanaman nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini, maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan, antara lain adalah metode pemberian tugas (resitasi) dan Tanya jawab mengenai pengalaman keagamaan siswa.

F.    Pendekatan Pembiasaan

Pembiasaan adalah alat pendidikan. Pembiasaan yang baik akan membentuk sosok manusia yang berkepribadian baik dan sebaliknya. Menanamkan kebiasaan tidak mudah, tetapu sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan sukar untuk mengubahnya, maka pembiasaan sangat penting. Bertolak dari pendidikan pembiasaan itulah yang menyebabkan kebiasaan dijadikan sebagai pendekatan pembiasaan. Dalam pendidikan agama Islam sangat penting, karena dengan pendidikan pembiasaan diharapkan siswa senantiasa mengamalkan ajaran agamanya, baik secara individu maupun kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu metode ini perlu dipertimbangkan, antara lain: metode latihan (drill), pelaksanaan tugas, elementrasi dan pengalaman langsung di lapangan.

G.  Pendekatan Emosional

Emosi adalah gejala kejiwaan yang ada di dalam diri seseorang. Emosi berhubungan dengan perasaan. Emosi adalah sesuatu yang peka, emosi mempunyai peranan penting dalam pembentukan kepribadian seseorang. Itulah sebabnya pendekatan emosional yang berdasarkan emosi atau perasaan dijadikan sebagai salah satu pendekatan dalam pendidikan dan pengajaran terutama untuk pendidikan agama Islam. Pendekatan emosional adalah suatu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini, memahami dan menghayati ajaran agama, serta bertambah kuat keyakinan akan kebesaran Allah SWT. Metode mengajar yang dipertimbangkan antara lain: metode berceramah, cerita, sosiodrama.

H.  Pendekatan Rasional

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna. Perbedaan dengan makhluk lain yaitu terletak pada akal manusia. Dengan kekuatan akal manusia dapat membedakan mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan buruk, mana yang benar, mana yang dusta. Dalam dunia pendidikan, anak didik harus menggunakan akal untuk berfikir dari hal abstrak-konkret. Usaha yang terpenting bagi guru adalah bagaimana memberikan peranan kepada akal (rasio) dalam memahami dan menerima ilmu pengetahuan, termasuk ajaran agama (dalam pendidikan agama). Karena keampuhan akal (rasio) itulah akhirnya dijadikan sebagai “Pendekatan Rasional” untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran di sekolah. Maka metode mengajar yang perlu dipertimbangkan antara lain: metode ceramah, Tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, latihan, dan pemberian tugas.

I.      Pendekatan Fungsional

Ilmu pengetahuan yang dipelajari oleh anak di sekolah bukan hanya sekedar pengisi otak, tetapi diharapkan berguna dan dimanfaatkan anak dalam kehidupan sehari-hari. Karena hal itu maka dijadikan sebagai pendekatan fungsional agar dapat menjebatani harapan tersebut. Metode belajar yang perlu dipertimbangkan, antara lain metode latihan, pemberian tugas, ceramah, Tanya jawab, dan demontrasi.

J.     Pendekatan Keagamaan

Semua mata pelajaran tidak lepas dari pendekatan keagamaan. Hal ini dimaksudkan agar nilai budaya ilmu tidak sekuler, tetapi menyatu dengan nilai agama. Pendekatan agama dapat membantu guru untuk memperkecil kerdilnya jiwa agama di dalam diri siswa, yang pada akhirnya nilai-nilai agam tidak dicemoohkan dan tidak dilecehkan, tetapi diyakini, dipahami, dihayati, dan diamalkan.

K.  Pendekatan Kebermaknaan

Bahasa adalah alat untuk menyampaikan dan memahami gagasan pikiran, pendapat dan perasaan secara lisan maupun tulisan. Bahasa Inggris adalah bahasa asing pertama di Indonesia yang dianggap penting dalam perkembangan  dan penyerapan IPTEK. Siswa mengalami kegagalan dalam penguasaan bahasa Inggris, menyebabkannya yaitu kurang tepatnya pendekatan yang digunakan. Salah satu alternative kea rah pemecahan tersebut diajukannya pendekatan baru yaitu “Pendekatan Kebermaknaan”.

Konsep penting dari pendekatan ini adalah:

  1. Bahasa merupakan alat untuk mengungkapkan makna yang diwujudkan melalui struktur (tata bahasa dan kosa kata)
  2. Makna ditentukan oleh lingkup kebahasaan dan situasi
  3. Makna dapat diwujudkan melalui kalimat yang berbeda, baik secara lisan maupun tulisan
  4. Belajar bahasa asing adalah belajar berkomunikasi melalui bahasa tersebut, sebagai bahasa sasaran, baik secara lisan maupun tulisan
  5. Motivasi belajar faktor utama penentu keberhasilan
  6. Bahan pelajaran dan kegiatan lebih bermakna jika berhubungan dengan pengalaman, minat, tata nilai, dan masa depan
  7. Dalam KBM, siswa adalah subyek bukan obyek
  8. Dalam KBM, guru sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan ketrampilan berbahasa.

BAB V

KEDUDUKAN PEMILIHAN DAN

PENENTUAN METODE DALAM PENGAJARAN

 

A.     Kedudukan Metode dalam Belajar Mengajar

Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur – unsur manusiawi adalah sebagai suatu proses dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.  Salah satu usaha yang tidak pernah guru tinggalkan adalah bagaimana meamahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analisis yang dilakukan, lahirlah pemahaman tentang kedudukan metode sebagai alat motivasi ekstrinsik, sebagai strategi pengajaran, dan sebagai alat untuk mencapai tujuan

1.                Metode Sebagai Alat Motivasi Ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik menurut Sardiman. A.M. (1988; 90) adalah motif – motif yang aktif dan berfungsinya, karena adanya perangsang dari luar. Tujuan intruksional adalah pedoman yang mutlak dalam pemilihan metode. Dalam perumusan tujuan, guru perlu merumuskannya dengan jelas dan dapat diukur. Dengan begitu mudahlah bagi guru menentukan metode yang bagaimana yang dipilih guna menunjang pencapaian tujuan yang telah dirumuskan tersebut.

Dalam mengajar, guru jarang sekali menggunakan satu metode, karena mereka menyadari bahwa semua metode ada kebaikan dan kelemahannya. Penggunaan satu metode lebih cenderung menghasilkan kegiatan belajar mengajar yang membosankan bagi anak didik. Kejenuhan dan kemalasan menyelimuti kegiatan belajar anak didik. Kondisi ini tidak menguntungkan bagi guru dan anak didik. Ini berarti metode tidak dapat difungsikan oleh guru sebagai alat motifasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar.

Akhirnya, dapat dipahami bahwa penggunaan metode yang tepat dan berfariasi akan dapat dijadikan sebagai alat motivasi ekstrisik dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

2.                Metode Sebagai Strategi Pengajaran

Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama. Daya serap anak didik bermacam – macam. Faktor intelegensi mempengaruhi daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan guru.

Menurut Dra. Roestayah. N. K. (1989; 1), guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien mengena pada tujuan yang diharapkan. Dengan demikian, metode mengajar adalah strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

3.                Metode Sebagai Alat untuk Mencapai Tujuan

Tujuan adalah suatu cita – cita yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.  Tujuan belajar mengajar tidak tercapai selama komponen – komponen lainnya tidak diperlukan. Salah satunya adalah komponen metode. Metode adalah sala satu alat untuk mencapai tujuan. Metode adalah pelicin jalan pengajaran menuju tujuan. Antara metode dan tujuan jangan bertolak belakang. Artinya metode harus menunjang pencapaian tujuan.

Jadi, guru sebaiknya menggunakan metode yang menunjang kegiatan belajar mengajar

B.     Pemilihan dan Penentu Metode

Metode mengajar yang guru gunakan dalam setiap pertemuan bukan asal pakai. Jarang sekali guru merumuskan satu rumusan tetapi guru merumuskan lebih dari satu, guru pun selalu menggunakan metode lebih dari satu, pemakaian metode yang satu digunakan untuk mencapai tujuan yang satu, dan penggunaan metode yang lain juga digunakan untuk mencapai tujuan yang lain.

1.    Nilai Strategi Metode

Kegiatan belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai pendidikan. Di dalamnya terjadi interaksi antara guru dan murid. Bahan pelajaran yang disampaikan tanpa memperhatikan pemakaian metode justru akan mempersulit guru dalam mencapai tujuan pengajaran. Kegagalan dalam pengajaran salah satunya disebabkan oleh pemilihan metode yang kurang tepat. Karena itu, guru sebaiknya memperhatikan dalam pemilihan dan penentuan metode sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di kelas.

2.    Efektifitas Penggunaan Metode

Penggunaan metode yang tidak sesuai dengan tujuan pengajaran akan menjadi kendala dalam mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Cukup banyak bahan yang terbuang percuma karena kehendak guru dan mengabaikan kehendak siswa, fasilitas, serta situasi kelas. Guru yang selalu menggunakan metode ceramah, adalah kegiatan belajar mengajar yang kurang kondusif. Karena itu, efektifitas penggunaan metode dapat terjadi bila ada kesesuaian antara metode dengan komponen pengajaran yang telah diprogram.

3.    Pentingnya Pemilihan dan Penentu Metode

Titik sentral harus dicapai oleh setiap kegiatan belajar mengajar adalah tercapainya tujuan pengajaran. Guru sebagai satu sumber belajar berkewajiban menyediakan lingkungan yang kreatif bagi kegiatan belajar anak didik di kelas. Kegagalan guru mencapai tujuan pengajaran akan terjadi jika pemilihan dan penentuan metode tidak dilakukan dengan pengenalan terhadap karakteristik dari masing – masing metode pengajaran.

4.    Faktor – faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode

Menurut Winarno Surakhmad (1990; 97) mengatakan, bahwa pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagai berikut

a. Anak didik

Anak didik adalah manusia berpotensi yang menghajatkan pendidikan.

b. Tujuan

Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar mengajar.

c. Situasi

Situasi kegiatan belajar mengajar yang guru ciptakan tidak selamanya sama dari hari ke hari.

d. Fasilitas

Fasilitas merupakan hal yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode mengajar.

e. Guru

Setiap guru mempunyai kepribadian yang berbeda.

C.     Macam – macam Metode Mengajar

Patut untuk diketahui, bahwa metode – metode mengajar yang dibahas disini belumlah semuanya dibicarakan dan untuk selanjutnya pembaca dapat mnemukannya di dalam literatur lain. Metode – metode yang diuraikan berikut ini adalah:

1.        Metode Proyek

Metode proyek / unit adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah, kemudian dabahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahan secara keseluruhan dan bermakna.

Kelebihan dan kekurangan metode proyek:

a.      Kelebihan

  1. Dapat memperluas pemikaran siswa yang berguna dalam menghadapi masalah kehidupan.
  2. Dapat membina siswa dengan kebiasaan menerapkan pengetahuan, sikap, dalam kehidupan sehari – hari.
  3. Metode ini sesuai dengan prinsip – prinsip dedaktik.
  4. b.  Kekurangan
    1. Kurikulum yang berlaku di indonesia baik secara vertikal maupun horisontal belum menunjang pelaksanaan metode.
    2. Pemilihan topik unit yang tepat sesuai dengan kebutuhan siswa, cukup fasilitas, sumber belajar yang diperlukan, bukanlah hal yang mudah.
    3. Bahan pelajaran sering menjadi luar sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.
      1. 2.        Metode Eksperimen

Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan pecoban dengan mngalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.

Kelebihan dan kekurangan metode eksperimen:

  1. a.      Kelebihan
    1. Membuat siswa lebih percaya atas kebenaran / kesimpulan berdasarkan percobaannya.
    2. Membina siswa untuk membuat terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaanya dan bermanfaat bagi kehidupan.
    3. Hasil – hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat manusia.
    4. b.      Kekurangan
      1. Metode ini lebih dengan bidang sains dan teknologi.
      2. Metode ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan mahal.
      3. Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan.
      4. Setiap percobaan tidak selalu berhasil karena mungkin ada faktor tertentu yang berada diluar jangkauan.
        1. 3.        Metode Tugas dan Resitasi

Metode ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran terlalu banyak sementara waktu sedikit. Artinya, banyak bahan tersedia tapi waktu sedikit.

Langkah – langkah dalam penggunaan metode tuigas / resitasi

  1. Fase Pemberian Tugas
  2. Lankah Pelaksanaan Tugas
  3. Fase Mempertanggungjawabkan Tugas

Kelebihan dan kekurangan metode tugas

  1. a.      Kelebihan
    1. Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktifitas belajar individual / kelompok.
    2. Dapat mengembangkan kemandirian siswa di luar pengawasan guru.
    3. Dapat membina tanggungjawab dan disiplin siswa.
    4. Dapat mengembangkan kreatifotas siswa.
    5. b.      Kekurangan
      1. Siswa sulit dikontrol.
      2. Khusus untuk tugas kelompok, tidak jarang aktif mengerjakan dan mnyelesaikan.
      3. Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa.
      4. Sering memberikan tugas yang monoton dapat menimbulkan kebosanan siswa.
        1. 4.        Metode Diskusi

Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa dihadapkan pada suatu masalah.

Kelebihan dan kekurangan metode diskusi:

  1. a.    Kelebihan
    1. Merangsang kreatifitas anak dalam bentuk ide, gagasan,dan terobosain baru dalam pemecahab suatu masalah.
    2. Mengembangkan sikap menghargai pendapat orang lain.
    3. Memperluas wawasan.
    4. Membina untuk terbiasa musyawarah untuk mufakat dalam memecahkan suatu masalah.
    5. b.    Kekurangan
      1. Pembicara kadang menyimpang sehingga memerlukan waktu yang lama.
      2. Tidak dapat dipakai pada kelompok yang besar.
      3. Peserta mendapat informasi yang terbatas.
      4. Mungkin dakuasai oleh orang – orang yang suka berbicara.
      5. 5.        Metode Sosiodrama

Tujuan metode sosiodrama:

  1. Agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain.
  2. Dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab.
  3. Dapat belajar bagaima\na mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan.
  4. Merangsang kelas untuk berpikir dan memecahkan masalah

Kelebihan dan kekurangan metode sosiodrama:

  1. a.   Kelebihan
    1. Siswa melatih dirinya untuk melatih, memahami, dan mengingat isi bahan yang akan didramakan.
    2. Siswa akan terlatih untuk berinisiataf dan berkreatif.
    3. Bakat yang terdapat pada suiswa dapat dipupuk sehingga dimungkinkan akan muncul / tumbuh bibit seni drama disekolah.
    4. Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya.
    5. Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab.
    6. Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami orang lain.
    7. b.   Kelemahan
      1. Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain drama menjadi kurang kreatif.
      2. Banyak memakan waktu, baik waktu persiapan maupun pada pelaksanaan.
      3. Memerelukan tempat yang cukup luas.
      4. Kelas lain sering terganggu oleh suara para pemain dan para penonton.
      5. 6.        Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan meragakan kepada siswa suatu proses.

Kelebihan dan kekurangan metode demonstrasi:

  1. a.   Kelebihan
    1. Dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkret, sehingga menghindari verbalisme.
    2. Siswa dapat mudah memahami apa yang dipelajari.
    3. Proses pengajaran lebih menarik.
    4. Siswa dirangsang untuk aktif mengamati.
    5. b.   Kekurangan
      1. Metode ini memerlukan keterampilan guru yang khusus.
      2. Fasilitas seperti peralatan, tempet, dan biaya yang memadai tidak selalu tersedia dengan baik.
      3. Demontrasi memerlukan kesiapan dan prencanaan yang matang.
  1. 7.        Metode Problem Solving

Penggunaan metode ini denganmengikuti langkah – langkah sebagai berikut :

  1. Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan.
  2. Mencari data / keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut.
  3. Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut.
  4. Menguji kebenaran jawaban tersebut.
  5. Menarik kesimpulan

Kelebihan dan kekurangan metode problem solving:

  1. a.   Kelebihan
    1. Metode dapat membuat pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan kehidupan.
    2. Prosres belajar mengajar melalui pemecahan masalah dapat membiasakan siswa menghadapi dan memecahkan masalah secara terampil.
    3. Metode ini merangsang pengembangan kemampuan berpikir siswa secara kreatif dan menyeluruh.
    4. b.   Kekurangan
      1. Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa, tingkat sekolah dan kelasnya.
      2. Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode ini sering memerlukan waktu yang cukup banyak dan sering terpaksa mengambil waktu pelajaran lain.
      3. Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir.
      4. 8.        Metode Karyawisata

Kelebihan dan kekurangan metode karyawisata:

  1. a.   Kelebihan
    1. Karyawisata memiliki prinsip pengajaran modern yang memanfaatkan lingkungan nyata dalam pengajaran.
    2. Membuat apa yang dipelajari di sekolah lebih relevan dengan kenyataan dan kebutuhan di masyarakat.
    3. Pengajaran serupa ini dapat lebih merangsang kreatifitas siswa.
    4. Informasi sebagai bahan pelajaran lebih luas dan aktual.
    5. b.   Kekurangan
      1. Fasilitas yang diperlukan dan biaya yang dipergunakan sulit untuk disediakan oleh siswa / sekolah.
      2. Sangat memerlukan persiapan / perencanaan yang matang.
      3. Memerlukan koordinasi dengan guru serta bidang studi lain agar tidak terjadi timpang tindih waktu dan kegiatan selama karyawisata.
      4. Dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi lebih priorotas dari pada tujuan utama.
      5. Sulit mengatur siswa yang banyak dalam perjalanan dan mengarahkan mereka kepada kegiatan studi yag menjadi masalah.
      6. 9.        Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab.

Kelebihan dan kekurangan metode tanya jawab:

  1. a.   Kelebihan
    1. Pertanyaan dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa, sekalipun siswa itu sedang ribut.
    2. Merangsang siswa untuk melatih dan mengembangkan daya pikir, termasuk daya ingatan.
    3. Mengembangkan keberanian dan keterampilan siswa dalam menjawab dan mengemukakan pendapat.
    4. b.   Kekurangan
      1. Siswa merasa takut, apalagi bila guru kurang dapat mendorong siswa untuk berani.
      2. Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dangan tingkat berpikir dan mudah dipahami siswa.
      3. Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua / tiga orang.
      4. Dalam jumlah siswa yang banyak, tidak mungkain waktu untuk memberikan pertanyaan kepada setiap siswa.
  1. 10.    Metode Latihan

Kelebihan dan kekurangan metode latihan:

  1. a.   Kelebihan
    1. Untuk memperoleh kecakapan motoris, seperti menulis, menghafalkan huruf,menggunakan alat dan terampil menggunakan peralatan olah raga.
    2. Untuk memperoleh kecakapan mental seperti dalam perkalian, menjumlah, pengurangan, pembagian,dan sebagainya.
    3. Untumemperoleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang dibuat, seperti hubungan huruf – huruf dalam ejaan, dan sebagainya.
    4. Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dan menambah ketepatan serta kecepatan pelaksanaan.
    5. Pemanfaatan keboiasaan yang tidak memerlukan konsentrasi dalam pelaksanaanya.
    6. Pembentukan kebiasaan membuat gerakan yang komplpeks.
    7. b.   Kekurangan
      1. Menghambat bakat dan inisiatif siswa.
      2. Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan.
      3. Kadang – kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang merupakan hal yang monoton.
      4. Membentuk kebiasaan yang kaku, karena bersifat otomatis.
      5. Dapat menimbulkan verbalisme.
      6. 11.    Metode Ceramah

Metode ceramah adalah metode yang dipergunakan sebagai alat komunikasi entara guru dan anak didik.

Kelebihan dan kekurangan metode ceramah:

  1. a.   Kelebihan
    1. Guru mudah menguasai kelas.
    2. Mudah mengorganisasikan tempat duduk / kelas.
    3. Dapat diikuti oleh sejumlah siswa yang besar.
    4. Muidah mempersiapkannya dan melaksanakannya.
    5. Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik.
  1. b.   Kekurangan
    1. Mudah menjadi verbalisme.
    2. Yang visual menjadi rugi.
    3. Bila selalu digunakan dan terlalu lama, membosankan.
    4. Guru menyimpulkan siswa mengerti dan tertarik pada ceramah.
    5. Menyebabkan siswa menjadi pasif.
  1. D.     Pratek Penggunaan Metode Mengajar

Berikut akan dikemukakan kemungkinan kombinasi metode mengajar

  1. Ceramah, Tanya Jawab dan Tugas.
  2. Ceramah, Diskusi dan Tugas.
  3. Ceramah, Demonstrasi dan Eksperimen.
  4. Ceramah, Sosiodrama dan Diskusi.
  5. Ceramah, Problem Solving dan Tugas.
  6. Ceramah, Demonstrasi dan Latihan.

BAB VI

KEBERHASILAN BELAJAR MENGAJAR

 

  1. A.     Pengertian Keberhasilan

Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar mengajar dapat dikatakan berhasil, setiap guru memiliki pandangan masing – masing sejalan dengan filsafat. Karena itulah, suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila hasilnya memenuhi tujuan intruksional khusus dari bahan tersebut.

  1. B.      Indikator Keberhasilan

Yang menjadi petunjuk bahwa suatu proses belajar mengajar dianggap berhasil adalah hal – hal berikut :

  1. Daya serap terhadap bahan pengajaran yang diajarkanmencapai prestasi tinggi, baik secara individual maupun kelompok.
  2. Perilaku yang digariskandalam tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa, baik secara individual maupun kelompok.
  1. C.     Penilaian Keberhasilan

Untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar dapat dilakukan melalui tes prestasi belajar. Berdasarkan tujuan dan ruang lingkupnya, tes prestasi belajar dapat digolongkan ke dalam jenis penilaian sebagai berikut :

  1. Tes Formatif.
  2. Tes Subsumatif.
  3. Tes sumatif.
  1. D.     Tingkat Keberhasilan

Tingkat keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut

  1. Istimewa / maksimal.
  2. Baik sekali / optimal.
  3. Baik / minimal.
  4. Kurang.
  1. E.     Program Perbaikan

Pengajaran perbaikan biasanya mengandung kegiatan – kegiatan sebagai berikut:

  1. Mengulang pokok bahasan seluruhnya.
  2. Mengulang bagian dari pokok bahasan yang hendak dikuasai.
  3. Memecahkan masalah / menyelesaikan soal – soal bersama – sama.
  4. Memberikan tugas – tugas khusus.
  1. F.      Faktor – faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan
    1. 1.    Tujuan

Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.

Tujuan pembelajaran khusus ini harus dirumuskan secara  operasional dengan memenuhi syarat – syarat tertentu :

  1. Secara spesifik menyatakan perilaku yang akan dicapai.
  2. Membatasi dalam keadaan mana perubahjan perilaku diharapkan dapat terjadi.
  3. Secara spesifik menyatakan kriteria perubahan perilaku dalam arti menggambarkan standar minimal perilaku yang dapat diteri sebagai hasil yang dicapai.
  4. 2.    Guru

Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah.

  1. 3.    Anak Didik

Anak didik adalah orang yang dengan sengaja datang ke sekolah.

  1. 4.    Kegiatan Pengajaran

Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak didik dengan bahan sebagai perantaranya.

  1. 5.    Bahan dan Alat Evaluasi

Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat di dalam kurikulum yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan.

  1. 6.    Suasana Evaluasi

Selain faktor tujuan, guru, anak didik, kegiatan pengajaran serta bahan dan alat evaluasi, faktor suasana evaluasi juga merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar.pelakasanaan evalusi dilaksanakan di kelas. Besar kecilnya jumlah anak didik yang dikumpulkan di dalam kelas. Sekaligus mempengaruhi suasanaevaluasi yang dilaksanakan.

BAB VII

PENGGUNAAN MEDIA SUMBER BELAJAR DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

 

  1. A.     Pengertian Media

Kata “media”  berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium”, yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”. Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.

Media mempunyai arti yang cukup penting dalam proses belajar mengajar. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara.

Namun, perlu diingat, bahwa peranan media tidaka akan terlihat bila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Karena itu, tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media.

Akhirnya, dapat dipahami bahwa media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran.

  1. B.     Media Sebagai Alat Bantu

Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Setiap materi pelajaran memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi ada bahan pelajaran yang tidak memerlukan alat bantu, tetapi di lain pihak ada bahan pelajaran yang sangat memerlukan alat bantu berupa media pengajaran seperti globe, grafik, gambar dan sebagainya. Penggunaan media sebagai alat bantu tidak bisa sembarangan menurut kehendak guru. Tetapi juga harus memperhatikan dan mempertimbangkan tujuan.

Akhirnya, dapat dipahami bahwa media adalaha alat bantu dalam proses belajar mengajar. Dan gurulah yang mempergunakannya untuk membelajarkan anak didik demi tercapainya tujuan pengajaran.

  1. C.     Media Sebagai Sumber Belajar

Belajar mengajar adalah suatu proses yang mengolah sejumlah nilai untuk dikonsumsi oleh setiap anak didik. Nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi terambil dari berbagai sumber. Sumber belajar yang sesungguhnya banyak sekali terdapat di mana-mana; di sekolah, di halaman, di pusat kota, di pedesaan, dan sebagainya. Udin Saripuddin dan Winataputra (199; 65) mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi lima kategori, yaitu manusia, buku/perpustakaan, media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan. Karena itu, sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang.

  1. D.     Macam-macam Media

Klasifikasi media bisa dilihat dari jenisnya, daya liputnya, dan dari bahan serta cara pembuatannya.

  1. 1.                Dilihat dari Jenisnya, Media Dibagi ke Dalam:
    1. Media Auditif

Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, casette recorder, piringan hitam.

  1. Media Visual

Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Media ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip (film rangkai), slides (film bingkai), foto, gambaratau lukisan, cetakan. Ada pula yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu, film kartun.

  1. Media Audiovisual

Media audiovisula adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. Media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi kedua jenis media. Mediaini dibagi kedalam:

1)   Audiovisual Diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides), film rangkai suara, cetak suara.

2)   Audiovisual Gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video-cassette.

Juga dapat dibagi menjadi:

a)    Audiovisual Murni yaitu baik unsur suara maupun unsur gambar berasal dari suatu sumber seperti video-cassette.

b)   Audiovisual Tidak Murni yaitu yang unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari sumber yang berbeda, misalnya, film bingkai suara yang unsur gambarnya bersumber dari slides proyektor dan unsur suaranya bersumber dari tape recorder.

  1. 2.                Dilihat dari Daya Liputnya, dibagi menjadi:
    1. Media dengan Daya Liput Luas dan Serentak

Penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik yang banyak.

  1. Media dengan Daya Liput yang Terbatas oleh Ruang dan Tempat

Media ini dalam penggunaannya membutuhkan tempat dan ruang yang khusus.

  1. Media untuk Pengajaran Individual

Media ini penggunaannya hanya untuk seorang diri, misalnya, modul berprogram dari pengajaran melalui komputer.

  1. 3.                Dilihat dari Bahan Pembuatannya, dibagi menjadi:
    1. Media Sederhana

Media ini bahan dasarnya mudah diperoleh, harganya murah, pembuatannya mudah, dan penggunaannya tidak sulit.

  1. Media Kompleks

Media ini bahan dan alat pembuatannya sulit diperoleh,sulit membuatnya, penggunaannya perlu keterampilan, serta mahal harganya.

  1. E.     Prinsip-prinsip Pemilihan dan Pengguanaan Media

Drs. Sudirman N. (1991) mengemukakan beberapa prinsip pemilihan media pengajaran.

  1. Tujuan Pemilihan

Memilih media yang akan digunakan harus sesuai maksud dan tujuan pemilihan yang jelas.

  1. Karakteristik Media Pengajaran

Setiap media mempunyai karakteristik tertentu, dilihat dari segi keampuhannya, cara pembuatannya, maupun cara penggunaannya.

  1. Alternatif Pilihan

Guru bisa menentukan pilihan media mana yang akan digunakan apabila terdapat beberapa media yang dapat diperbandingkan.

Prinsip-prinsip menurut Dr. Nana Sudjana (1991; 104) adalah:

  1. Menentukan jenis media dengan tepat.
  2. Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat.
  3. Menyajikan media dengan tepat.
  4. Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat, dan situasi yang tepat.
  1. F.      Dasar Pertimbangan Pemilihan dan Penggunaan Media
    1. 1.    Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan dalam Memilih Media Pengajaran
      1. Objektivitas
      2. Program pengajaran
      3. Sasaran program
      4. Situasi dan kondisi, meliputi situasi dan kondisi sekolah dan situasi dan kondisi anak didik.
      5. Kualitas teknik
      6. Keefektifan dan efisiensi penggunaan.
      7. 2.    Kriteria Pemilihan Media Pengajaran
        1. Ketepan dengan tujuan pengajaran.
        2. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran.
        3. Kemudahan memperoleh media.
        4. Keterampilan guru dalam menggunakannya.
        5. Tersedia waktu untuk menggunakannya.
        6. Sesuai dengan taraf berpikir siswa.
  1. G.    Pengembangan dan Pemanfaatan Media Sumber

Media pengajaran adalah suatu alat bantu yang tidak bernyawa. Nana Sudjana (1991) merumuskan fungsi media pengajaran menjadi enam kategori:

  1. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan fungsi tambahan tetapi merupakan fungsi sendiri sebagai alat bantu.
  2. Penggunaan media pengajaran merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar.
  3. Media pengajaran dalam pengajaran.
  4. Penggunaan media dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan.
  5. Penggunaan media dalan pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar.
  6. Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.

Ada enam  langkah yang bisa ditempuh guru pada waktu belajar mengajar dengan menggunakan media:

  1. Merumuskan tujuan.
  2. Persiapan guru.
  3. Persiapan kelas.
  4. Langkah penyajian pelajaran dan pemanfaatan media.
  5. Langkah kegiatan belajar siswa.
  6. Langkah evaluasi pengajran.

BAB VIII

BEBERAPA TEKNIK MENDAPATKAN UMPAN BALIK

 

  1. A.     Memancing Apersepsi Anak Didik

Anak didik adalah orang yang mempunyai kepribadian dengan ciri-ciri yang khas sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhannya.

Bahan apersepsi sangat membantu anak didik dalam usaha mengolah kesan-kesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Penjelasan-penjelasan dapat dicernaoleh anak didik secara bertahap. Dengan begitu guru tidak usah khawatir bahwa anak didik tidak menguasai pelajaran tapi guru yakin bahwa anak didik dapat menguasai sebagian atau seluruh bahan pelajaran.

  1. B.     Memanfaatkan Taktik Alat Bantu yang Akseptabel

Bahan pelajaran adalah isi yang disampaikan oleh guru dalam proses belajar mengajar. Guru yang menyadari kelemahan dirinya untuk menjelaskan isi dari bahan pelajaran yang disampaikan sebaiknya memanfaatkan alat bantu untuk membantu memperjelas isi dari bahan.

  1. C.     Memilih Bentuk Motivasi yang Akurat

Dalam usaha untuk membangkitkan motivasi belajar anak didik, ada beberapa hal yang dapat dikerjakan oleh guru, yaitu:

  1. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar.
  2. Menjelaskan secara jelas kepada anakdidik apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran.
  3. Memberikan genjaran terhadap prestasi yang dicapai sehingga merangsang untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik.
  4. Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
  5. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok.
  6. Menggunakan metode yang bervariasi.

Bentuk-bentuk motivasi yang dapat guru gunakan guna mempertahankan minat anak didik yaitu:

  1. Memberi angka

Angka yang dimaksud adalah sebagai simbol atau nilai dari hasil aktivitas belajar anak didik.

  1. Hadiah

Hadiah adalah memberikan kepada orang lain sebagai penghargaan atau kenang-kenangan. Guru dapat memberikan hadiah kepada siswa yang berprestasi.

  1. Pujian

Pujian adalah alat motivasi yang positif. Guru dapat memakai pujian untuk menyenangkan perasaan anak didik.

  1. Gerakan tubuh

Gerakan tubuh dalam bentuk mimik yang cerah, dengan senyum, mengangguk, acungan jempol, tepuk tangan, memberi salam, menaikkan bahu, dan lain-lain adalah sejumlah gerakan fisik yang dapat memberikan umpan balik dari anak didik.

  1. Memberi tugas

Tugas adalah suatu pekerjaan yang menuntut pelaksana untuk menyelesaikan. Guru dapat memberikan tugas kepada anak didik sebagai bagian yang tak dapat terpisahkan dari tugas belajar.

  1. Memberi ulangan

Ulangan adalah salah satu strategi yang penting dalam pengajaran. Dengan diadakannya ulangan, guru dapat mengetahui sampai dimana dan sejauh mana hasil pengajaran yang telah diberikan dan sejauh mana tingkat penguasaan anak didik terhadap pengajaran tersebut.

  1. Mengetahui hasil

Di dalam diri anak didik ada keinginan untuk mengetahui sesuatu. Guru harus bisa memanfaatkannya untuk kepentingan pengajaran.

  1. Hukuman

Hukuman adalah reinforcement yang negatif, tetapi diperlukan dalam pendidikan. Hukuman yang dimaksudkan di sini buakn seperti hukuman penjara atau potong tangan, tetapi hukuman yang mendidik.

  1. D.     Menggunakan Metode yang Bervariasi

Metode adalah strategi yang tidak bisa ditinggalkan dalam proses belajar mengajar. Metode yang digunakan itu tidak sembarangan, tetapi sesuai dengan tujuan.

Penggunaan metode akan menghasilakn kemampuan yang sesuai dengan karakteristik metode tersebut. Kemampuan yang dihasilkan oleh metode ceramah akan berbeda dengan metode diskusi. Demikian juga seperti metode eksperimen, observasi, karyawisata, problem solving, dan sebagainya.

BAB IX

PENGEMBANGAN VARIASI MENGAJAR

 

  1. A.   Tujuan Variasi Mengajar

Tujuan mengadakan variasi mengajar adalah :

  1. 1.      Meningkatkan dan Memelihara Perhatian Siswa terhadap Relevansi Proses Belajar Mengajar

Dalam proses belajar mengajar perhatia dari siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan sangat dituntut. Sedikitpun tidak diharapkan adanya siswa yang tidak atau kurang memperhatikanpenjelasan guru, karena itu akan menyebabkan tidak memahami pelajaran dari guru.

Faktor yang mempengaruhi siswa sukar mempertahankan perhatikan terhadap materi yang diberikan guru adalah : penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran, situasi luar kelas yang dirasakan siswa lebih menarik daripada pelajaran yang disampaikan, siswa yang kurang menyenangi materi pelajaran.

Perhatian siswa terhadap materi yang disampaikan sangat mempengaruhi tercapainya tujua pembelajaran.karena itu, guru selalu memperhatikan variasi mengajarnya, apakah sudah dapat meningkatkan da memelihara perhatian siswa terhadapmateri yang dijelaskan apa belum.

  1. 2.      Memberikan Kesempatan Kemungkinan Berfungsinya Motivasi

Motivasi berperan sangat penting dalam belajar. Dengan motivasi seorang siswa akan dapat belajar dengan baik. Dalam proses belajar mengajar dikelas, guru selalu dihadapkan dengan motivasi.

Bagi siswa yang selalu memperhatikan pelajaran yang diberikan, bukanlah menjadi masalah bagi seorang guru karena siswa tersebut sudah mempunyai motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan guru.

Berbeda dengan siswa yang tidak mempunyai motivasi dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini peran seorang guru lebih dituntut untuk menjadi motivator, yaitu motivasi sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat, motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan, dan motivasi sebagai alat untuk menyeleksi perbuatan.

  1. 3.      Membentuk Sikap Positif terhadap Guru dan Sekolah

Suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa di kelas ada siswa tertentu yang kurang senang terhadap seorang guru. Hal ini bias disebabkan karena gaya mengajar guru yang kurang bervariasi. Gaya mengajar guru yang tidak sejalan dengan gaya belajar siswa. Metode mengajar guru yang itu-itu saja.

Guru yang kurang dapat menguasai keadaan kelas akan mengakibatkan jalan pengajaran kurang menguntungkan bagi guru dan siswa. Guru yang bijaksana adalah guru yang pandai menempatkan diri dan pandai mengambil hati siswa. Sehingga siswa merasa diperhatikan dan siswa ingin selalu merasa dekat dengan guru. Ketiadaan guru barang sehari disekolah tidak jarang dipertanyakan. Siswa merasa rindu untuk selalu dekat disisi guru. Guru seperti itu biasanya karena gaya mengajarnya dan pendekatannya sesuai dengan psikologis siswa.

  1. 4.      Memberi Kemungkinan Pilihan dan Fasilitas Belajar Individual

Sebagai seorang guru dituntut untuk mempunyai berbagai ketrampilan yang mendukung tugasnya dalam mengajar. Penguasaan metode mengajar yang dituntut kepada guru tidak hanya satu atau dua metode, tetapi lebih banyak dari itu. Penguasaan terhadap bagaimana menggunakan media merupakan ketrampilan lain yang juga harus dikuasai oleh guru. Demikian juga penguasaan terhadap berbagai pendekatan dalam mengajar dikelas. Penguasaan ketiga ketrampilan tersebut memudahkan bagi guru melakukan pengembangan variasi mengajar.

Fasilitas merupakan kelengkapan belajar yang harus ada di sekolah. Fungsinya sebagai alat bantu pengajaran, alat peraga, dan sebagai sumber belajar. Lengkap dan tidaknya fasilitas belajar mempengaruhi pemilihan yang harus guru lakukan.

  1. 5.      Mendorong Anak Didik Untuk Belajar

Menyediakan lingkungan belajar adalah tugas guru. Kewajiban belajar adalah tugas anak didik. Kedua kegiatan ini menyatu dalam sebuah interaksi pengajaran yang disebut interaksi edukatif. Lingkungan pengajaran yang kondusif adalah lingkungan yang mampu mendorong anak didik selalu belajar hingga berakhirnya kegiatan belajar mengajar. Belajar memerlukan motivasi sebagai pendorong bagi anak didik adalah motivasi intrinsik yang lahir dari kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan.

  1. B.   Prinsip Penggunaan

Agar kegiatan pengajaran dapat merangsang siswa untuk aktif dan kreatif belajar, tentu saja diperlukan lingkungan belajar yang kondusif. Salah satu upaya kearah itu adalah dengan cara memperhatikan beberapa prinsip penggunaan variasi dalam mengajar. Prinsip-prinsip penggunaan variasi mengajar adalah :

  1. Dalam menggunakan ketrampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan, selain juga harus ada variasi penggunaan penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi.
  2. Menggunakan variasi secara lancar dan berkesinambungan, sehingga moment proses belajar mengajar yang utuh tidak rusak, perhatian anak didik dan proses belajar tidak terganggu.
  3. Penggunaan komponen variasi harus benar-benar terstruktur dan direncanakan oleh guru.
  1. C.   Komponen-komponen Variasi Mengajar
    1. 1.      Variasi Gaya Mengajar

Variasi dalam gaya mengajar pada dasarnya ada enam yaitu :

  1. a.      Variasi Suara

Suara guru dapat bervariasi dalam intonasi, nada, volume, dan kecepatan. Guru dapat mendramatisir suatu peristiwa, menunjukkan hal-hal yang dianggap penting, dan seterusnya.

  1. b.      Penekanan (focusing)

Untuk memfokuskan perhatian anak didik pada suatu aspek yang pentig atau aspek kunci, guru dapat menggunakan “penekanan secara verbal”.

  1. c.       Pemberian Waktu (pausing)

Untuk menarik perhatian anak didik,dapat dilakuka dengan mengubah yang bersuara menjadi sepi, dari suatu kegiatan menjadi tanpa kegiatan atau diam. Dalam keterampilan bertanya, pemberian waktu dapat dilakukan setelah guru mengajukan pertanyaan. Bagi anak didik, pemberian waktu dipakai untuk mengorganisasi jawabannya agar menjadi lengkap.

  1. d.      Kontak Pandang

Bila guru berinteraksi dengan anak didik, sebaiknya mengarahkan pandangannya ke seluruh kelas, menatap mata setiap anak didik untuk dapat membentuk hubungan yang positif dan menghindari hilangnya kepribadian.

  1. e.       Gerakan Anggota Badan (gesturing)

Variasi dalam mimik, gerakan kepala atau badan merupakan bagian yang penting dalam komunikasi. Selain untuk menarik perhatian juga menolong dalam menyampaikan arti pembicaraan.

  1. f.        Pindah Posisi

Perpindahan posisi guru dalam ruang kelas dapat membantu dalam menarik perhatian anak didik, dan dapat meningkatkan kepribadian guru.

  1. 2.      Variasi Media dan Bahan Ajaran

Ada tiga komponen dalam variasi pengguaan media, yaitu :

  1. a.      Variasi Media Pandang

Penggunaan media pandang dapat diartikan sebagai penggunan alat dan bahan ajaran khusus untuk komunikasi seperti buku, majalah, radio, film, demonstrasi, dan seterusnya. Pengguaan yang lebih luas dari alat-alat tersebut akan memiliki keuntungan:

  1. Membantu secara konkret konsep berfikir dan mengurangi respon yang kurang bermanfaat.
  2. Memiliki secara potensial perhatian anak didik pada tingkat yang tinggi.
  3. Dapat membuat hasil belajar yang riil yang akan mendorong kegiatan mandiri anak didik.
  4. Mengembangkan cara berfikir berkesinambungan, seperti halnya dalam film.
  5. Memberi pengalaman yang tidak mudah dicapai oleh alat lain.
  6. Meambah frekuensi kerja, lebih dalam, dan variasi belajar.
  7. b.      Variasi Media Dengar

Variasi dalam penggunaan media dengar memerlukan sekali saling nergantian atau kombinasi dengan media pandang dan media tektil. Ada sejumlah media dengar yang dapat dipakai untuk itu diantaranya ialah pembicaraan anak didik, rekaman suara, rekaman musik, rekaman drama yang semuanya itu dapat memiliki relevansi dengan pelajaran.

  1. c.       Variasi Media Taktil

Komponen terakhir variasi media adalah penggunaan media yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk menyentuh dan memanipulasi benda atau bahan ajaran. Dalam hal ini akan melibatkan anak didik dalam kegiatan penyusunan atau pembuatan model, yang hasilnya dapat disebutkan sebagai “media taktil”.

  1. 3.      Variasi Interaksi

Variasi dalam pola interaksi antara guru dengan anak didik memiliki rentangan yang bergerak dari dua kutub, yaitu :

  1. Anak didik bekerja atau belajar secara bebas tanpa campur tangan dari guru.
  2. Anak didik mendengarkan dengan pasif. Situasi didominasi oleh guru, dimana guru berbicara dengan anak didik.

Bila guru yang berbicara, dapat melalui beberapa kategori : filling persetujuan, penghargaan, menggunakan pendapat anak didik, bertanya, ceramah, memberi petunjuk, dan mengeritik. Sebaliknya, anak didik dapat berbicara melalui pemberian respons dan pengambilan prakarsa. Bila guru mengajukan pertanyaan dapat divariasi dengan domain kognitif dari Bloom, pertanyaan dapat diajukan ke seluruh kelas atau ditujukan kepada anak didik individual.

 

 

 

 

 

 

BAB X

PENGELOLAAN KELAS

Masalah pokok yang dihadapi guru, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas masalah tingkah laku yang kompleks, dan guru mebnggunakannya untuk menciptakan  kondisai kelas sehingga anak didik dapat mencapai tujuan belajar. Pengelolaan kelas adalah ketrampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar mengajar. Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mengatur anak didik.

  1. A.   Pengertian Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas adalah salah satu tugas guru yang tidak perenah ditinggalkan. Pengelolaan kelas  terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan  dan kelas. Pengelolaan menurut Shuharsimi  Arikunto (1990;2)  adalah pengadministrasian, pengaturan  atau penataan suatu kegiatan. Sedangkan kelas menurut Oemar hamaliki (1987;311), adalah suatu kelompok orang yang melakukuan kegiatan belajar bersama, yang mendapat pengajaran dari guru. Suharsimi Arikunto(1988;17) menegaskan, bahwa kelaas yang dimaksud disini adalah kelas dengan system penngajaran klasial dalam pengajaan secara tradisional.

Sedangkan kelas dalam penngertian umum dapat  dibedakan atas dua pandangan, yaitu: Pandanngan dari segi siswa dan pandangan dari segi fisik.

Hadari Nawawi memandang kelas dari dua sudut, yaitu:

  1. Kelas dalam arti sempit yaitu, ruangan yang dibatasi oleh emoat dinding.
  2. Kelas dalam arti luas adalah, suatu masyarakat kecil yang merupakan  bagian dari masyarakat sekolah.

Dari  uraian  terasebut dapatlah dipahami bahwa pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dengan sengaja dilakukan guna mencapai tujuan penngajaran. Menurut Made Pidarta penngelolaan kelasa adalah proses seleksi pengngunaan alat-alat tepat terhadap problema dan situasi kelas. Sedangkan menurut Sudirman N, dkk (1991;310),  Pengelolaan kelas adalah  upaya mendaya gunakan potensi kelas. Suharsimi Arikunto(1988;67) juga berpendapat bahwa pengelolaan kelas  adalah kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar mencapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar mengajar seperti yang diharapkan.

  1. B.   Tujuan Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas yangn dilakukan guru bukan tanpa tujuan. Tujuan pengelolaan kelas  pada hakekatnya telah terkandung dalam tujuan pendidikan. Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan  social, emosional,  dan intelektual dalam kelas. (Sudirman N, 1991;311)

Shuharsimi Arikunto (1988;68) berpendapat bahwa tujuan peneelolaan kelas adalah  agar setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertip sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.

  1. C.   Berbagai Pendekatan Dalam  Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas  bukanlah masalah yang berdiri sendiri, tetapi terkait dengan berbagai faktor. Permasal;ahan peserta didik adalah factor utama yanvg terkait dalam hal ini. Berbagai pendekatan pengelolaan kelas diantaranya, sebagai berikut:

  1. 1.      Pendekatan Kekuasaaan

Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk m engontrol tingkah laku anak didik.

  1. 2.      Pendeklatan Ancaman

Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik.

  1. 3.      Pendekatan kebebasan

Pengelolaan diartikan sebagai suatu proses agar anak didik merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan dan dimana saja.

  1. 4.      Pendekatan Resep

Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan member satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang jarus dan tidak boleh dilakukan oleh seorang guru.

  1. 5.      Pendekatan Pengajaran

Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik.

  1. 6.      Pendekatan Perubahan Tingkah Laku

Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku anak didik.

Pendekatan berdasarkan perubahan tingkah laku ertolak dari sudut pandangan psikologi Bihavioral yang mengemukakan asumsi sebagai berikut :

  1. Semua tingkah laku yang baik dan yang kurang baik merupakan hasil proses belajar.

b. Di dalam proses belajar terdapat proses psikologis fundamental.

  1. 7.      Pendekatan Suasana Emosi Dan Hubungan Social

Pendekatan pengolahan kelas berdasarkan suasana perasaan dan suasana social (socio-emotional climate approach) di dalam kelas sebagai sekelompok individu cenderung pada pandangan psikologi Klinis dan konseling.Ada 2 asumsi pokok pengelolahan kelas, sbb:

  1. Iklim social dan emosional yang baik adalah dalam arti terdapat hubungan interpersonal yang harmonis antara guru dengan guru, guru dengan siswa , seswa dengan siswa merupakan kondisi yang memungkinkan proses belajar mengajar yang efektif.

b. Iklim sosial dan emosional yang baik tergantung pada guru dalam usahanya melaksanakan kegiatan belajar mengajar, yang disadari dengan hubungan manusiawi yang efektif.

  1. 8.      Pendekatan Proses Kelompok

Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk menciptakan kelas sebagai suatu system social, dimana proses kelompok merupakan yang paling utama. Dasar dari proses kelompok  yang mengetengahkan 2 asumsi sbb:

  1. Pengalaman belajar di sekolah bagi siswa berlangsung dalam konteks kelompok sosial.

b. Tugas guru terutama adalah memelihara kelompok belajar agar menjadi kelompok yang efektif dan produktif.

  1. 9.      Pendekaatan Electis Atau Pluralistic.

Pendekatan electis ini menekankan pada potensialitas, kreatifitas dan inisiatif wali / guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan tersebut di atas berdasarkan situasi yang di hadapinya.

  1. D.   Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas

Masalah pengelolaan kelas bukanlah merupakan tugas yang ringan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan kelas menjadi dua golongan yaitu, factor intern siswa dan factor ekstern siswa.  Faktor intern siswa berhubungan dengan masalah emosi, pikiran, dan perilaku. Sedangkan faktor ekstern siswa terkait dengan masalah suasana lingkungan belajar, penempatan siswa, pengelompokan siswa jumlah siswa di kelas, dsb.

Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas, guru harus mengetahui dan menguasai prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang akan diuraikan berikut ini:

  1. 1.    Hangat Dan Antusias

Guru yang hangat dan akrab dengan anak didik akan berhasil dalam mengemplementasikan pengelolaan kelas.

  1. 2.    Tantangan

Cara kerja atau bahan-bahan yang menantang dan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar.

  1. 3.    Bervariansi

Penggunaan alat atau media, atau alat bantu, gaya mengajar guru dan anak diik akan meningkatkan perhatian anak didik.

  1. 4.    Keluwesan

Keluasan guru akan megubah stategi mengajarnya akan mencegah kemungkinan munculnya anak didik serta menciptakan iklim yang efektif.

  1. 5.    Penekanan Pada Hal-Hal Yang Pisitif

Dalam mengajar, guru harus menekankan hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian anak didik yang negatif.

  1. 6.    Penanaman Disiplin Diri

Anak didik dapat mengembanngkan disiplin diri sendiri.

  1. E.   Komponen-Kompnen Ketrampilan Pengelolaan Kelas

Komponen ketrampilan kelas dibagi menjadi dua bagian, yaitu Ketrampilan yang berhubungan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar  yang optimal terdiri dari ketrampilan sikap tanngga, membagi perhatian, pemusatan perhatian kelompok. Strategi yang termasuk dalam ruang lingkup ketrampilan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal., dapat diuraikan sebagai beerikut:

  1. 1.    Ketrampilan Yang  Berhubungan Dengan Penciptaan Dan Pemeliharaan Kondisi  Belajar Yang Optimal ( Bersifat Preventif)

Aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan ketrampilan sebagai berikut:

  1. a.    Sikap Tanggap

Guru tahu kegiatan mereka, tau apa yang mereka kerjakan. Sikap ini dapat dilakukan dengan cara :

1). Memandang Secara Seksama

Dapat mengundang dadn melibatkan anak didik dalam kontak pandang serta interaktif antar pribadi.

2). Gerak Mendekati

Meningkatkan minat dan perhatian guru yang diberikan terhapap tugas serta aktivitas anak didik.

3)   Memberi Pernyataan

Pernyataan guru terhadap suatu yang dikemukakan oleh anak didik sangat  diperlukan, baik, berupa tenggapan,komentar, ataupun yang lainnya.

4)   Memberi Reaksi Terhadap Gangguan Dan Ketakutan

Teguran perlu dilakukan oleh guru untuk mengembalikan keadaan kelas.

  1. b.    Membagi Perhatian

Membagi perhatian dapat dilakukan sebagai berikut;

1)   Visual

Guru mengubah pandangan dalam memperhtikan egiatan pertama sedemikian rupa sehingga ia dapat melirik ke kegiataan kedua.

2)   Verbal

Guru dapat member komenta, penjelasan, pertanyaan terhadap anak didik.

  1. c.    Pemusatan perhatian kelompok

Untuk  mendapat perhatian dari anak didik, ada beberapa hal yang dapat dilakukan  oleh guru, yaitu;

1)   Memberi tanda

Guru memusatkan pada perhatuian kelompok terhada suatu tugas dengan memberikan tanda.

2)   Pertannggung Jawaban

Guru meminta pertanggungjawaban anak didik ata kehiatan dan keterlibatannya dalam suatu kegiatan.

3)   Pengarahan  Dan Petunjuk Yang Jelas

Guru harus sering member petunjuk atau pengarahan yang jelas kepada anak didik.

4)   Penghentian

Guru dapat menanggulangi terhadap anak didik yang nyata-nyata melanggar dan mengganggu untuk aktif dalam kegiatan di kelas.

Teguran verbal yang efektif  adlah memenuhi syarat syarat berikut;

a)      Tegas dan jelas tertuju pada anak didik.

b)      Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan.

c)      Menghindari ocehan atau ejekan.

5)   Penguatan

Penggunaan penguatan  untuk mengubah tingkah laku merupakan strategi remedial untuk mengatasi anak didik yang terus mengganggu atau tidak melakukan tugas.

6)   Kelancaran (Smoothees)

Kelancaaran anak didik dalam belajar sebagai indikator bahwa anak didik dapat memusatkan perhatiannya pada pelajaran yang diberikan di kelas. Ada sejumlah kesalahan yang harus  guru hindari, yaitu:

a)   Campur  Tangan Yang Berlebihan (Teacher Instruction)

Hal ini akan memberi kesan kepada anak didik bahwa guru tidak memperhatikan keeterlibatan ddan kebutuhan anak didik.

b)   Kelenyapan ( Fade Away)    

Hal ini terjadi jika guru gagal secara tepat melengkapi suatu instruktur dan kemudian menghentikan penjelasan atau sajian tanpa alasan yang jelas.

c)    Penyimpangan (Digression)

Penyimpangan itu dapat mengganggu kelancaran kegiatan belajar anak didik.

d)   Ketidaktepatan  Berhenti Dan Memulai Kegiatan

Ketidaktepatan mengakhiri dan memulai kegiatan akan mengganggu kelancaran belajar anak didik.

7)   Kecepatan  ( Pacing )

Kecepatan disini daiartikan sebagai tingkat kemajuan yang dicapai  anak didik dalam suatu pelajaran. Yang harus dihindari guru adalah kesalahan menahan

Kecepatan yang tidak perlu, atau menahan penyajian bahan pelajaran yang sedang berjalan, atau kemajuuan tugas.

  1. 2.    Keterampilan Yang Berhubungan Dengan Pengembangan Kondisi Yang Optimal

Ketrampilan ini berkaitan dengan tanggapan guru terhadap gangguan anak didik yang berkelanjutan dengan maksud  agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengnembalikan kondisi belajar yang optimal.

Strategi guru untuk tindakan perbaikan tingkah laku anak didik, adalah sebagai berikut:

  1. a.    Modifikasi Tingkah Laku

Guru menganalisis tingkah laku anak didiknya.

  1. b.    Pendekatan Pemecahan Masalah Kelompok

Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah dengnan cara kelompok.

  1. c.    Menemukan Dan Memecahkan Masalah Tingkah Laku Yang Menimbulkan Masalah

Guru dapat menggunakan seperangnkat cara  untuk mengendalikan tingkah laku keliru yang muncul.

  1. F.    Beberapa Masalah Pengelolaan Kelas

Pengelolaan kelas bukanlah hal yang mudah dan ringan. Gagalnya seorang guru mencapai tujuan pengajaran sejalan dengan ketidakmampuan guru mengelola kekas. Indikator dari kegagalan iru adalah  prestasi belajar siswa rendah, tidak sesuai dengan stsndar atau batas ukukran yang ditentukan.

Keanekaagaman masalah perilaku siswa itu menimbulkan beberapa masalah pengelolaan kelas. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Kurang kesatuan.
  2. Tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok.a
  3. Reaksi negatif terhadap anggota kelompok.
  4. Kelas menoleransi kekeliruan-kekeliruan temannya.
  5. Mudah mereaksi negatif/ ter ganggu.
  6. Tidak  mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah.

Faktor-faktor penyebab variasi perilaku adalah;

  1. Karena pengelompokan ( pandai, sedang, bodoh).
  2. Karakteristik individual.
  3. Kelompokpandai akan merasa terhalang oleh teman- temannya yang tidak bisa seperti dia.
  4. Dalam latihan diharapkan semua siswa  tenang dan bekerja seanjang jam pelajaran.
  5. Dari organisasi kuikulum tentang team teaching.

Doyle(1986) memadang  masalah pengelolaan kelas terungkap dari lima kategori masalah, yaitu;

1)   Berdimensi Banyak ( Multidimensionality)

Dikelas guru dituntut untuk melaksanakan tugas akademik dan tugas administratif.

2)   Serentak (Simultaneity)

Berbagai hal dapat terjadi pada waktu yang sama dikekas.

3)   Segera (Immediacy)

Proses pengajaran yang terjadi di kelas dapat cukup cepat.

4)   Iklim Kelas Yang Tidak Dapat Diramalkan Terlebih Dahulu

Doyle mengatakan bahwa iklim yang terjadi dikelas bukan semata-mata merupakan hasil upaya guru. Banyak faktor telah mempengaruhi terjadinya iklim di kelas, dan beberapa diantarnya dating dengan tiba-tiba.

5)   Sejarah ( History)

Doyle juga mengatakan bahw peristiwa yang terjadi di kelas akan mempunyai dampak yang dirasakan dalam waktu yang jauh sebelumnya. Beberapa masalah yang dikemukakan tersebut adalah masalah yang berkepanjangan bagi guru. Belum lagi maalah besar kecilnya jumlah kelas. Tetapi, setiap kali perbedaan besar kelas dipertimbangkan biasamya terdapat persesuaian pendapat yang menakjubkan.

Data penelitian menunjukkan tiga ketentuan umum mengoptimalkan kelas, yaitu:

  1. Bila tujuan kognitif tingkat rendah dan tujuan efektif akan dicapai.
  2. Bila tujuan kognitif tingkat tinggi dan tujuan efektif ingin dicapai.
  3. Bila yang ingin dicapai adalah tujuan kognitif tingkat tertinggi dan tujuan efektif, maka tutorial satu lawan satu bahkan lebih baik dari pada kelas kecil.

Kelas besar mempunyai dua efek samping, yaitu;

  1. Kelas-kelas besar memberi bahan mengajar lebih berat bagi para guru.
  2. Kelas-kelas besar lebih membatasi kebebasan guru dalam memvariasikan metode penyajiannya.

Bentuk-bentuk pelanggaran disiplin yang bersifat individual adalah sebagai berikut:

  1. 1.    Tingkah Laku Untuk Menarik Perhatian Orang Lain

Siswa yang ingin diperhatikan, berusaha mencari kesempatan pada waku yang tepat untuk melakukan perbuatan yang dikiranya dapat menarik perhatian orang lain.

  1. 2.    Tingkah Laku Untuk Menguasai Orang Lain

Perilaku siswa untuk menguasai orang lain ada yang bersifat aktif dan ada juga yang bersifat pasif.

  1. 3.    Perilaku Untuk Membalas Dendam

Perilaku seperti ini biasanya siswa yang merasa lebih kuat, dan yang menjadi sasaran biasanya orang yang lebih lemah.

  1. 4.    Peragaan Ketidak Mampuan

Siswa yang demikian biasanya sangat apatis (masabodo) terhadap pekejaan apapun.

Bentuk-bentuk pelanggaran disiplin yang bersifat kelompok adalah sebagai berikut:

  1. a.    Kelas Kurang Kohesif ( Akrab)

Persaingan yang tidak sehat antar kelompok menimbulkan keonaran yang menyebabkan proses pengajaran mengalami hambatan.

  1. b.    Kesebalan Terhadap Norma-Norma Yang Telah Disepakati Sebelumnya

Tingkah laku seperti ini sengaja dilakukan oleh siswa untuk melanggar norma-norma yang disepakati sebelumnya.

  1. c.    Kelas Mereaksi Negatif Terhadap Salah Seorang Anggota

Kelas memperolok-olok temannya, sehingga kelas menjadi gaduh tidak karuan.

  1. d.    Menyokong Anggota Kelas Yang Justru Melanggar Norma Kelompok

Kelas mendukung salah seorang angngota kelas yang membadut, seolah-olah dia dianggap sebagai pahlawan.

  1. G.  Penataan Ruang Kelas

Agar tercipta suasana belajar yang mengairahkan, perlu diperhatikan pengaturan/penataan ruang kelas/ belajar.

Dalam masalah penataan ruang kelas akan diuraikan sebagai berikut:

  1. 1.      Pengaturan Tempat Duduk

Tempat duduk sangat mempengaruhi siswa dalam belajar. Bila tempat duduknya sesuai dengan keadaan tubuh siswa, maka siswa akan dapat belajar dengan tenang.

  1. 2.      Pengaturan Alat-Alat Pengajaran

Alat-alat pengajaran yang harus diatur adalah sebagai berikut:

-          Perpustakaan kelas

-          Alat-alat peraga media pengajaran

-          Papan tulis, kapur tulis,dll

-          Papan presensi siswa

  1. 3.      Penataan Keindahan Dan Kebersihan Kelas

-          Hiasan dinding (pajangan kelas) hendaknya bermanfaat untuk kepentingan

pengajaran

-          Penempatan lemari

-          Pemeliharaan kebersihan

  1. 4.      Ventilasi Dan Tata Cahaya

-          Ada ventilasi yang sesuai dengan ruangan kelas.

  1. H.  Pengaturan Siswa

Berbagai persamaan dan perbedaan kepribadian siswa, berguna dalam membantu usaha pengaturan siswa dikelas. Sehingga kegiatan belajar yang penuh kesenangan dan bergairah dapat bertahan dalam waktu yang relatif lama. Kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan kelompok  menghendaki peninjauan pada aspek individual siswa. Sebaiknya setiap kelompok dipisah agar tidak didominasi oleh satu kelompok tertentu, agar persaingan dalam belajar berjalan seimbang.

  1. 1.        Pembentukan Organisasi

Untuk melatih siswa dalam berorganisasi dan dalam rangka menciptakan ketertiban kelas, kiranya perlu dibentuk organisasi siswa di kelas. Organisasi di kelas umumnya berbentuk sederhana. Pemilihan para personil kelas dilakukan oleh anggota kelas (para siswa).

  1. 2.        Pengelompokan Siswa

Roestiyah N.K.(1989;0) membagi pengelompokan siswa dengan melibatkan dari seegi waktu, kecepatan, dan sifatnya.

Rumusan tentang pengelompokan siswa menurut yang dikemukakan oleh Conny Semiawan, dkk. (1985;67) adalah sebagai berikut:

  1. Pengelompokan meurut kesenangan berkawan
  2. Pengelompokan menurut kemampuan
  3. Pengelompokan menurut minat

Sedangkan pengelompokan menurut Udin Saripuddin Winataoura dan Rustana Ariwinata (1001) sebagai berikut:

1)               Pola Bekerja Paralel

Dalam diskusi kelas hasil-hasil kerja kelompok ini dibandingkan dengan yang lain untuk disimpulkan bersama.

2)               Pola Bekerja Komplementer

Masing-masing kelompok mendapat satu topik yang berbeda dengan topik/tugas yang diberikan kepada kelompok lain.

3)               Pola Campuran Paralel Dan Komplementer

Dua kelompok atau lebih mendapat topik atas tugas yang sama, sedangkan kelompok atau lebih lainnya mendapat topik/tugas yang berbeda.

Pengelompokan siswa dapat pula dilakukan dengan cara-cara berikut:

a)      Pembentukan Kelompok Diserahkan Kepada Siswa

Hal ini banayak bergantung dari faktor kesesuaian dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai serta sifat dan isi dari materi.

b)      Pembentukan Kelompok Diatur Oleh Guru Sendiri

Kecenderungnan siswa untuk berperan sebagai dalam kelasnya atau pengikut saja, dengan demikian akan terbentuk kelompok-kelompok yang heterogen.

c)      Pembentukan Kelompok Diatur Oleh Guru Atas Usul Siswa

Siswa mengisi angket dengan membubuhkan nama anggota kelompoknya  yang dipilih secara rahasia.untuk melaksanakan  cara ini guru hendaknya telah menguassai masalah yang berkenaan dengan perbuatan sosiometrik.

  1. I.      Pengelolaan Kelas Yang Efektif

Bila kelas diberikan batasan sebagai sekelompok orang yang belajar bersama, yang mendapat pengajaran dari guru

Menurut Made Pidarta utuk mengelola kelas secara efektif perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Kelas adalah  kelompok kerja yang diorganisasi untuk tujuan tertentu.
  2. Dalam situasi kelas, guru bukan tutor untuk satu orang melainkan bagi semua anak atau kelompok.
  3. Kelompok mempunyai  perilaku yang berbeda dengan individu dalam kelompok itu.
  4. Kelompok kelas menyisipkan pengaruhnya kepada anggota.
  5. Praktek guru waktu belajar cenderung terpusat pada hubungan guru dan siswa.dll

Dari hasil riset telah disimpulkan beberapa variabel masalah yang perlu diperhatikan untuk membuat iklim kelas yang sehat dan efekti, sebagai berikut;

  1. Bila situasi kelas memungkinkan anak-anak belajar secara maksimal.
  2. Manajemen kelas harus member fasilitas dalam mengembangkan kesatuan dan kerjasama.
  3. Anggota kelompok harus diberi kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.

Thomas Gordon (1990;29)  mengatakan bahwa hubungan guru dikatakan baik apabila hubunngan itu memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

1)   Keterbukaan, sehingga guru dan siswa saling bersikap jujur dan membuka diri satu sama lain.

2)   Tanggap bila seseorang dinilai oleh orang lain.

3)   Saling ketergantungan.

4)   Saling memenuhi kebutuhan, sehingga tidak ada yang dirugikan.

Maka itu berarti tugas berat bagi guru adalah usaha menghilangkan atau memperkecil permasalahan-pemasalahan yang terkait dengan semua problem pengelolaan kelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: